oleh

Jelajah Sampah Berlanjut di Ujung Pandang, Ketua Dewan Lingkungan Tegaskan Komitmen Kurangi Sampah ke TPA

MAKASAR.SIN.CO.ID – Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, kembali mengajak masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya yang dimulai dari rumah.

Ajakan itu disampaikan saat membuka Jelajah Sampah Kecamatan Ujung Pandang yang berlangsung di Anjungan Pantai Losari, Minggu (2/8/2026).

Kegiatan ini menjadi titik ke-10 dari rangkaian Jelajah Sampah yang akan dilaksanakan di 15 kecamatan se-Kota Makassar, termasuk wilayah kepulauan.

Program tersebut merupakan bagian dari gerakan edukasi masif untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam mendukung transformasi sistem pengelolaan sampah menuju kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Melinda menegaskan bahwa perubahan pola pengelolaan sampah yang saat ini diterapkan bukan sekadar kebijakan Pemerintah Kota Makassar, melainkan bagian dari arah kebijakan nasional yang mendorong agar hanya sampah residu yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Karena itu, pemilahan sampah dari sumber menjadi langkah yang tidak bisa lagi ditunda.

“Kalau kita ingin TPA bertahan lebih lama dan lingkungan tetap sehat, maka pekerjaan itu harus dimulai dari rumah. Sampah organik diolah, sampah yang masih bernilai dipilah, dan hanya residu yang dibawa ke TPA. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Baca Juga  - Pemerintah kota Ambon menggelar Halal bI Halal yang dilangsungkan di gedung Islamic Center Ambon, Rabu (10/5/2023) siang. Dalam kegiatan tersebut juga dialkukan pelantikan Majelis Ta'lim Al -Madinah Pemkot Ambon. Penjabat Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena mengaku, Halal BI Halal merupakan program pemkot Ambon disetiap tahun pasca Idul Fitri. Menjadi momentum yang tepat dalam meningkatkan semangat kerja dan merajut kebersamaan terutama dalam tugas pengabdian dan pelayanan bagi kota Ambon tercinta. "Selaku Penjabat Wali Kota Ambon, saya menyambut gembira Halal BI Halal ini. Kegiatan ini sudah menjadi tradisi di Indonesia termasuk di kota ini,"kata Wattimena saat memberikan sambutan. Dirinya juga berpesan kepada pengurus majelis Ta'lim Al -Madinah Pemkot Ambon, untuk segara menggelar rapat kerja dan menyusu program kerja, agar secepatnya dapat menjalankan tugas dengan baik sesuai topoksinya. Dalam sambutannya, Wattimena mengaku dipenghujun masa baktinya selaku Pj. Wali Kota Ambon, dari 11 program prioritas yang diusungnya, masih terdapat sejumlah program yang belum terealisasi dengan baik. "Tinggal dua pekan lagi saya menjadi Pj. Wali Kota Ambon, saya sadar bahwa masih ada program yang belum terselesaikan namun saya optimis bahwa ke depan siapapun yang akan melanjutkan tugas ini akan melakukan yang terbaik untuk kita Ambon yang kita cintai ini,"kata Wattimena. Dalam kesempatan tersebut Kepala Kantor Agama kota Ambon, H.R.A.Fachrurrazy Hassannusi memberikan Hikmah Halal BI Halal. "Berbeda Agama itu biasa, tapi kalau kita ribut karena perbedaan rasanya kita belum dewasa untuk memaknai perbedaan, karena dalam perbedaan itu kita bersama- sama membangun kota ini,"terangnya. Kegiatan ini juga di hadiri Ketua DPRD Kota Ambon, perwakilan Kodam dan Polda Maluku seluruh jajaran ASN Pemkot dan Kemenag Kota Ambon, berbagai lapisan masyarakat meliputi Tokoh Adat, tokoh Agama, Akademis serta seluruh Anggota Forum komunikasi Umat beragama di ikuti undangan lainnya Halal BI Halal Pemkot Ambon itu di isi dengan berbagai penampilan mulai dari tarian hingga lagu-lagu religi.

Melinda menyampaikan bahwa upaya pembenahan di TPA Tamangapa telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Area utama yang sebelumnya menjadi sumber bau kini sebagian besar telah ditutup dengan tanah sehingga kondisinya jauh lebih baik.

Selain itu, pengelolaan TPA juga mulai menerapkan sistem zonasi antara area aktif dan tidak aktif sebagai bagian dari penataan yang lebih modern.

Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak akan tercapai tanpa perubahan perilaku masyarakat.

Menurutnya, RT, RW, lurah, camat, hingga kader TP PKK memegang peranan penting sebagai ujung tombak edukasi. Mereka diharapkan menjadi contoh nyata dengan terlebih dahulu memilah sampah di rumah masing-masing sebelum mengajak masyarakat melakukan hal yang sama.

“Jangan pernah lelah mengingatkan warga. Edukasi memang membutuhkan proses, tetapi perubahan selalu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” kata Melinda.

Ia juga mengingatkan bahwa perangkat wilayah perlu memahami berbagai metode pengolahan sampah mandiri, mulai dari penggunaan komposter, pembuatan biopori, eco-enzyme hingga budidaya maggot, sehingga edukasi kepada masyarakat tidak hanya bersifat teori, tetapi juga berbasis praktik.

Baca Juga  Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Gedung BSCC Dome Balikpapan

Secara khusus, Melinda menyoroti tantangan Kecamatan Ujung Pandang yang merupakan pusat aktivitas Kota Makassar. Selain memiliki keterbatasan lahan untuk pengolahan sampah organik, kawasan ini juga menjadi lokasi sekitar seratus pelaku usaha sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) yang menghasilkan volume sampah organik cukup besar setiap hari.

Karena itu, menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor agar solusi yang diterapkan sesuai dengan karakter wilayah.

“Kami bersama Pemerintah Kota, Dewan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup, dan pemerintah kecamatan terus berkoordinasi mencari solusi terbaik. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda, sehingga pendekatannya juga harus disesuaikan. Yang terpenting, semangat untuk berubah tidak boleh berhenti,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta juga mengikuti kelas edukasi mengenai pengolahan sampah melalui pembuatan biopori, eco-enzyme, budidaya maggot, dan pemanfaatan komposter.

Edukasi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mulai mengolah sampah organik secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmi Budiman menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat implementasi kebijakan pengelolaan sampah melalui perubahan pendekatan, dari tahap pendampingan menuju sistem pengawasan yang lebih tegas. Langkah tersebut bertujuan membangun kedisiplinan masyarakat sekaligus memastikan keberlangsungan lingkungan hidup Kota Makassar.

Baca Juga  Aliyah Mustika Ilham: Pencegahan HIV-AIDS Butuh Kolaborasi dan Kepedulian Bersama

Menurutnya, pengelolaan sampah bukan hanya bertujuan menghindari sanksi, tetapi membangun budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan. DLH Kota Makassar berkomitmen menjaga kualitas lingkungan melalui pengelolaan sampah yang mandiri, berkelanjutan, serta mendorong lahirnya perilaku ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan perubahan iklim.

Pada kesempatan yang sama, Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar juga menyerahkan satu unit motor Viar kepada UPT Pantai Losari Kecamatan Ujung Pandang untuk mendukung operasional pengangkutan sampah di kawasan tersebut.

Kegiatan diawali dengan aksi plogging di kawasan Pantai Losari yang berhasil mengumpulkan 49 kilogram sampah, terdiri atas 10 kilogram sampah organik, 25 kilogram sampah anorganik, dan 14 kilogram sampah residu.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan talkshow menghadirkan perwakilan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi Maluku dan Dewan Lingkungan Hidup yang membahas pentingnya pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.

Melalui Jelajah Sampah yang kini telah memasuki titik ke-10, diharapkan semakin banyak warga yang memahami bahwa perubahan besar berawal dari kebiasaan sederhana, yakni memilah sampah dari rumah.

News Feed